Senin, 27 Juli 2015

PULAU SIKUAI - SUMATERA BARAT


                                             PULAU SIKUAI – SUMATERA BARAT


       Setelah lebih dari 2 tahun tidak pernah menulis di blogspot ini, rasanya “tugas wajib” menulis ini kudu dilanjutin. Kali ini saya akan berbagi pengalaman perjalanan saya ke Pulau Sikuai di Sumatera barat.
Sebenarnya perjalanan ini saya lakukan bersama teman-teman saya di Tahun 2013 lalu. Cerita uzur tapi masih gurih untuk dinikmati. Banyak tempat-tempat indah di Indonesia, salah satunya pulau eksotis yang satu ini. Saya sendiri tahu informasi tentang pulau ini dari seorang teman yang asli orang Padang. Sekitar tahun 2009 dia cerita pernah bekerja di salah satu resort di pulau ini. Awalnya saya pikir hanya pulau biasa aja. Tapi Tahun 2012 adik ipar saya bercerita juga tentang keindahan pulau ini. Alhasil rasa penasaran jadi pada gak karuan.


Begitu punya kesempatan Dinas pendidikan ke Padang, jadilah pulau ini jadi target utama saya. Saya sendiri sudah 4 kali ke Padang. Mubajir rasanya hanya berkunjung ke Pantai padang, Gua Jepang atau belanja di Bukit Tinggi. Menurutku suasananya monoton aja, gada yang berubah. Kesempatan 3 minggu pendidikan di padang dari perusahaan tempat saya bekerja, menjadikan impian saya nyata. Selama pendidikan hari libur hanya hari minggu, tak saya sia-siakan. Karena saya bukan tipe “traveller penyendiri”, jadilah saya memboyong 8 orang teman untuk berpetualang ke pulau ini. 6 cowok (Saya, Ozy, Madhan, Evan, Basyir, Putra) dan 3 gadis kota penggembira yang tidak bisa kena sinar matahari (Biyan, Oshie n Eqy). Dari semuanya hanya Evan yang pernah ke pulau ini, itupun waktu si Rock star ini masih kecil. Jadi sebenarnya dia gak ingat-ingat lagi rutenya. 


Kunjungan ke pulau ini hanya satu hari, artinya perjalanan PP. Jadi petualang itu memang gak selalu mudah, siap-siap menerima berbagai “kejutan” di setiap perjalanannya. Contohnya waktu kami tawar-menawar speedboat menuju pulau ini, nawarnya benar-benar ala mamak-mamak orang Medan. Dari harga 2 juta, jadilah harganya Rp. 1.600.000,- untuk perjalanan PP. Harga udah oke, trus saat kami meninjau tuh Boat, yang ada semua lemas. Kirain seperti kapal pesiar ala James bond, yang ada Boat ala angkot Medan. Pas muat untuk bokong doang. Alhasil gadis – gadis yang terbiasa bersosialita ala syahrini pun protes. Namun gak cowok namanya kalo ga bisa meyakinkan trio cewek nih. Akhirnya jadilah tuh boat disewa. 4 baju pelampung pun jadi andalan. Saya langsung pakai tuh baju. Sederhananya sih kalau ada apa-apa setidaknya ada yang selamat, trus bisa menceritakan ke media kejadian sebenarnya,...ha ha ha. Jujur parno juga naik nih boat, gimana gak parno?, baru 100 meter melaju, mesinnya ngulah. Hhhuuuuuuuuu,......... semua panik, mikirnya udah macem-macem. Pasrah aja berdoa. Akhhirnya ni boat melaju juga, penonton pun bersorak. Kapal pun menuju laut lepas dengan sisi kiri pemandangan tepian provinsi Sumatera Barat yang cantik. Naik boat ini asik juga, bisa liat ikan terbang for the first time. Really amazing.
Namanya boat kecil resiko goncangan air laut pasti ada. Apalagi saat ada kapal besar yang melintas, jadilah kami seperti ikan teri terombang-ambing gara-gara ikan sarden lewat. Fuihhhh,.... perjalan tempuh sekitar 2 jam. Satu jam pertama massih exited, setelah itu mulai ngantuk,...... tapi gak bosan juga. Setelah 2 jam perjalanan,...tadaaaaaaaaa,...... saatnya “si Ikan Teri” merapat. Awalnya nih pulau keliatan biasa aja diliat dari 500 meter sebelum merapat, tapi setelah merapat semua teriak-teriak seperti pelaut yang terapung-apung sebulan di laut dan akhirnya terdampar di pulau. Semua berebut di turun dari boat,...dan para anak-anak alay pun beraksi saling minta photo. Sayangnya saat itu Handphone yang saya pakai masih agak jadul, belum android, jadilah hasil jepretannya kurang beresolusi tinggi. 


10 menit pertama kami akhirnya menyadari ada keanehan di Pulau ini. Setelah membayar tiket masuk beberapa puluh ribu per orang kepada penjaga pulau, penjaga pulau yang hanya beberapa orang mengatakan kalau pulau ini tidak beroperasi lagi. Apaaaaaaaaa,.....??? rasanya mau pingsan. Penjaga mengatakan kalau pulau ini bisa dikunjungi tapi semua fasilitas pulau sudah tidak di tawarkan untuk pengunjung. Gak ada yang namanya snorkeling, diving, banana boat, bahkan kolam renangnya aja sudah lumutan. Beberapa villa juga sudah closed. Jadi kami hanya diijinkan untuk menikmati Pulau ala tarzan saja. Glek,...nelan air liur ampe jakun naik turun deh jadinya. Usut-punya usut hak pengelolaan pulau lagi sengketa. Padahal di Kota Padang ada iklan tentang pulau ini. Pantas saja, hanya beberapa pengunjung di Pulau ini selain kami. Seorang bule yang wara wiri hanya dengan celana pendek jogging di jogging trek yang mengelilingi pulau yang masih natural ini. Selain itu ada 2 cewek yang ada di sisi laiin pulau. Tapi itu khan suasana beberapa tahun lalu, mungkin sekarang sudah beroperasi penuh (mudah mudahan).


















Selalu
ada hikmah dari setiap perjalan, walau awalnya gak seperti yang diharapkan, tapi positif thinking aja. Kapan lagi menikmati pulau indah dan tidak ada keramaian seperti pantai Kuta Bali? Well,.... ini asiknya, rasanya hidup ala jaman purba di pulau pribadi. Gak ada yang mengganggu, bebas teriak, bebas berekspresi. Pulau ini gak besar, mungkin sekitar 1 jam untuk mengelilinginya. Saling private-nya, cowok-cowok ganti baju ddi alam terbuka, di tepi kolam yang udah berlumut,...horor ha ha ha. Sementara cowok-cowok udah pada nyebur ke air, Cewek-cewek malah gak mandi, mereka kenyang dengan photo-photo selfie sambil ha ha hi hi liat hasilnya di handphone. Benar-benar pulau seperti milik pribadi. Saking asiknya, saat kami mengekplorasi sisi lain pulau, si Madhan malah mandi sendiri tanpa sehelai benang pun,.....oh man,..... don't think u stay and live in stone age,....ha ha ha.


Traveller emang selalu punya insting kuat, setidaknya sebelum berangkat kami sudah pesan nasi bungkus di warung padang di tepi pantai padang. Beruntunglah ada si nasi bungkus, kalo gak ada bisa-bisa kami harus berburu ikan dulu dengan tombak buatan, lalu membakar ikan dengan ranting-ranting dari hutan..Thank's God. Puas berenang sampai beberapa episode, muka udah pada kepiting rebus, persediaan air minum hampir habis, akhirnya sore jam 5 kami pun pulang. Di boat yang ada semua udah lemas. Sampai di kota Padang saatnya mengisi perut dengan tumpukan kalori kalori sebelum pulang ke Mess tempat pelatihan kantor. KFC jadi pilihan tepat, cepat saji dan kenyang (tambah nasi euyyy), plus ada CD artis lagi,...wah jadi promosi nih.


Tetap ikuti kisah travelling saya ya,...eh sekedar info ya mas dan mbak-mbak sekalian, liat-liat juga nih blogspot saya, masih banyak kisah perjalanan lainnya yang keren-keren di indonesia, kayak waktu saya ke Bali, lombok, Bengkulu dll. Real Story for the real life at my kingdom of Story blogspot. See u. Thank u ya.




Kamis, 09 Juli 2015

Pengen Nulis Lagi

jam 23.58 WIB saat ini. setelah 2 tahun off, saatnya blospot ini diaktifkan lagi.demikian

Selasa, 26 Februari 2013

Serial Ceskul - Kost Sweet Kost (Part-1)


Serial Ceskul – Kost Sweet Kost (Part-1)


Ada pepatah yang bilang ”Home Sweet Home”. Nah, kalau saya yang kuliah selama 5 tahun di Unsri – Indralaya lebih tepatnya disebut “Kost Sweet Kost”. Betul sekali,yang namanya anak kuliah dan merantau di negeri orang, nge-kost sudah jadi “nasib” yang menglobal. Namanya aja kost, sudah bisa dipastikan jarang ada yang keren, dan pastinya minim fasilitas. Makanya waktu saya pernah ngantar teman kesalah satu kost di kota Medan, harga per bulannya ada yang 1 juta rupiah, saya langsung terbelalak, mahal amat dibandingkan waktu saya kuliah dulu ada yang hanya 1 juta rupiah setahun. Ya tapi itu dulu,....jaman sebelum merdeka secara finasial.

Mungkin saya paling tepat disebut nomaden kost, karena selama 5 tahun terhitung saya pernah 7 kali berpindah-pindah, bahkan pernah juga kembali pindah ke kost lama akibat kost yang baru selalu listriknya gak sanggup dayanya alias mati akibat ada tetangga cewek sebelah masak pake rice cooker, nyetrika dll. Bosan dengan kehidupan seperti itu, saya kemasi barang dan kembali lagi ke kost lama, ibarat kata ”burung saja kembali ke sarang, walau terbang sejauh-jauhnya”.

Namanya saja kost, bagi mahasiswa itulah istananya, seru-serunya anak kuliahan banyak dilewatkan di kost tercinta. Entah kenapa sering juga salah satu kost jadi basecamp pertemuan para mahasiswa. Kalau sudah begini, empunya kost kudu sabar-sabar, siapin minum, gelas, piring bahkan siap dijajah persediaan snack-nya tanpa harap kembali. Maklum saja, ada juga tamu yang nyadar diri, tapi ada juga tipe kolonial alias penjajah. Kalau saya sebenarnya type kolonial.

Kost pertama saya berada di Perumahan Serumpun, sekitar 4 KM dari lokasi Kampus. Tahun pertama gak terlalu seru di kost ini, pernah 2 bulan air PDAM mati suri. Alih-alih saya pindah dan jadi penumpang gelap di kost teman saya Yafeth dan Asaf (abang adik) di daerah Timbangan. Makanya ketika kontrak kost selesai, saat yang tepat pindah.

Kost di Tahun kedua saya memilih lebih ke pinggir lagi. Karena wilayah kost ini tidak terdapat di peta, maka kami menyebutnya ”Serumping” alias serumpun pinggiran. Letaknya persis di luar atau pinggiran batas perumhan Serumpun. Jangan anggap sebelah mata dulu, karena pemilik kost ini adalah Ibu Dosen Pembantu Dekan Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNSRI (FKIP). Si Ibu masih lajang, namun sudah lumayan berumur-lah. Kost ini seperti lokasi Villa. Arsitektur rumah Ibu Kost (Main House) benar-benar Modern-Tradisional, diadaptasi rumah adat Palembang. Uniknya Tangga menuju lantai 2 tidak berada di dalam rumah, tapi dari samping rumah. Si Ibu kost sangat baik. Karena si Ibu masih lajang tak jarang kami anak-anak kost dianggap anak sendiri. Saat itu belum trend Handphone, jadi kalau ada anggota keluarga yang nelpon, pembantu si Ibu akan segera memanggil dari Lantai 2. apalagi kalau hari Minggu, anak-anak kost pada ngantri nerima telepon dari keluarga. Sayang sekali si Ibu kost yang baik hati tidak berumur panjang, si Ibu terkena serangan jantung di Kampus. Rumah bak Villa dan beberapa kost disekitarnya jadi tidak ada induk semangnya. Dengar-dengar warisan si Ibu jatuh kepada putri dari saudarinya. Tinggal di kost ini nyaman banget, karena tetangga terdekat berjarak 500 meter, uniknya lagi bisa jalan-jalan ke danau rawa yang berjarak hanya 500 meter, tentunya melewati hamparan rumput semak. Rumah kost yang dikelilingi hutan semak memang selalu penuh resiko, apalagi kost ini terletak tidak begitu jauh dari TPU alias kuburan. Tak jarang malam-malam kedengaran lolongan anjing dari tetangga terdekat yang adalah keluarga polisi suku batak yang berasal dari Medan. Pernah sekali waktu teman saya Roberto nginap di kost saya, tiba-tiba saat tengah malam terdengar lolongan anjing yang bikin bulu kuduk berdiri, gak sampai disitu tiba-tiba ada aliran angin dingin yang entah kenapa kok bisa masuk ke kost padahal kaca jendela tertutup,...ihhh serem.

Lain lagi cerita yang satu ini, kost yang ”Super Duper” alami tapi penuh dengan resiko bertemu binatang-binatang melata. Pernah sekali seorang teman berhasil membunuh anak ular dengan diameter seukuran jari kelingking. Beberapa wanita pada menjerit ketakutan dan saling berpelukan. Gak jauh beda dengan si Mbak pembantu ibu kost, sambil menjerit-jerit ngebilangin sama ”si super hero” supaya jangan membunuh ular, nanti temannya datang. Saya juga baru tahu kalau ular itu punya teman, apa mungkin ular yang satu menyapa ular yang lain dengan sapaa’”Apa kabar Bro?”. Emang udah pernah dengar mitos itu, tapi yang ini baru nyata, dari semak muncul dua lagi anak ular yang lain dengan kecepatan menjalar yang lebih cepat. Seketika suasana senja di kost yang damai berubah jadi lautan terikan ”selamatkan dirimu,,......lupakan harta yang berharga selain nyawamu”. Beberapa orang lari terbirit-birit tak tentu arah. Jangan tanya tentang saya, rasanya mau pingsan. Seumur-umur lihat ular cuma waktu di kebun binatang, melihat pertunjukan ”Live” seperti itu rasanya sepertinya kaki kegelian sendiri. Mau disebut penakut terserahlah. Memang tidak semua orang dilahirkan untuk jadi superhero.

Ngomong-ngomong tentang superhero, mungkin teman saya satu geng ini pantas menyandang gelar superhero. Teman saya Roberto Sitanggang, anak Medan kelahiran Serdang ini benar-benar tahu cara menaklukkan alam Serumping. Pernah sekali ada biawak besar yang nyasar ke pekarangan kost. Ukurannya luar biasa, lebih dari setengah meter. Entah kenapa di saat senja yang indah harus ada binatang purba yang singgah di kots yang hampir saja dianggap sebagai Komodo atau dinosaurus oleh penghuni kost. Kalau ngadapin ular memang semuanya pada ngacir, tapi kalau biawak sepertinya lebih berani. Sama dengan teman kost yang bernama Theresia, cewek Fakultas Kedokteran ini memberanikan diri untuk bergabung dengan ”Tim penangkap biawak” serumping. Kali ini Tim-nya lebih solid, karena ada Stephy yang berbadan besar, saking besarnya ukuran sepatunya harus nomor khusus. Ada juga Dinand, cowok jurusan Teknik Mesin asal Bangka ini, badannya kurus dan lebih lincah. Kalau saya, Oland dan yang lainnya hanya penggembira saja. Siapa juga yang mau jadi korban keganasan produk evolusi  seleksi alam binatang purba yang satu itu. Ketua tim tentu saja Roberto sitanggang. Berbekal ilmu menggembala ternak dan hidup ala Kampung sewaktu kecil. Kemampuannya beradaptasi di alam jauh di atas rata-rata. Beruntunglah kami bukan hidup di pulau terdampar seperti di cerita ”Lost”, bisa-bisa hanya dia yang bertahan hidup di alam bebas.

Rencana penangkapan si Biawak berhasil. Si Biwak berhasil tersudut di ujung lorong gang kost. Semua gembira, tapi hey,...semua baru sadar siapa yang akan menangkapnya, dengan tangan kosong??? Si Robert pun mengatur staregi, dengan berbaris secara berlapis, kami akan menangkap si biawak. Merasa terpojok, si Biawak balik mencari jalan keluar dan berusaha menembus barikade manusia pemburu. Anehnya begitu si Biawak mendekat ke barisan, semua pemburu langsung lari terbirit-birit menyelamatkan diri, ada yang lari menjauh, ada juga yang masuk ke kost dan mengunci pintu. Parah,.....strategi jitu gak berhasil, sampai akhirnya hanya Robert yang berhasil menarik ekor Biawak yang berusaha meloloskan diri. Dengan tangan kosong dia mengangkat ekor si biawak. Si Biawak tidak berdaya, berusaha kabur dengan menggigit tapi usaha sia-sia. Karung goni pun disiapkan untuk menjadi rumah sementara si Biawak. Penduduk desa pun datang untuk meminta hasil buruan, kami memberi dengan iklas. Konon katanya Biawak bisa dimakan. Amit-amitlah, ngebayangin makan biawak. Semua bersorak untuk keberanian si Robert, Akhirnya kost pun aman tentram kembali, sejak itu Robert sering menjadi ketua Tim kegiatan geng 99’ers, termasuk kegiatan memancing, berperahu dan lintas alam..

Masih banyak kisah kehidupan kost yang seru, nantikan kelanjutan kisahnya di serial Ceskul.








Senin, 25 Februari 2013

Serial Ceskul : Gratis Sepuasnya


Serial Ceskul : Gratis Sepuasnya

Punya Geng waktu kuliah itu seru. Ada suka dukanya. Sukanya karena selain bisa ngilangin stress, ya bisa jadi tempat minjem duit waktu krisis moneter melanda anak kost. Dukanya yaitu jadi pelabuhan curhat dan tempat pinjaman teman-teman yang lagi fakir alias jamila (jatuh miskin lagi) di akhir bulan. Namanya juga sahabat, kalau lagi butuh wajib ditolong, apalagi kalau teman sudah memasang muka memelas,……gak tega gak ngasih minjam.

Untungnya kalau punya geng, perasaan lebih ceria, apalagi kuliah di rantau orang, kerinduan terhadap keluarga bisa diobati dengan adanya geng. Geng-ku sendiri sewaktu kuliah di UNSRI diberi nama 99’ers. Bukan mencaplok dari nama sebuah staiun radio di pulau jawa. Ini karena kami memang semuanya angkatan tahun 99.

Bolehlah punya geng, karena bersama kita lebih kuat. Misalnya saja lebih kuat atau lebih mampu bergotong royong mewujudkan sesuatu. Misalnya waktu pengen makan mie goring, semua anggota geng langsung ngumpulin duit, lalu dimasak sendiri (nah, jatah masak jatuh pada gadis-gadis anggota geng yang jumlahnya minoritas).

Sifat gotong royong atau sharing dana ini juga pernah membawa berkah bagi anggota geng. Cerita disuatu malam minggu, namanya aja jomblo sejati (walau sering disebut High Quality Jomblo), malam minggu ya paling pas gabung-gabung cari makanan. Biasanya sih minum bandrek dan makan tahu goreng di Simpang Timbangan Indralaya. Tapi malam minggu kali itu jadwalnya berbeda, Durian Party. Sekali-kali boleh donk anak kost berlagak kaya. Bermodalkan uang Rp. 10.000,- dua buah durian didapat. Meski tidak dihadiri semua anggota 99’ers, tapi bisa dipastikan durian party akan jadi ajang rebutan, maklum saja selain saya ada beberapa pesaing yang sudah mengasah kecepatan tangannya untuk segera berebut buah manis durian begitu durian dibuka. Sebut saja Robert, Nurani, David Alite dan Ityn, semuanya langsung berebut makan durian. Namanya saja anak kost kadang gak ada jaga Imej-nya. Berebut makan sambil ketawa-ketawa tanpa perduli ada pelanggan lain juga. Lega makan durian, saatnya bersendawa,…ha ha ha…pikirkan sendiri aromanya.

Ternyata kehebohan kami dengan “Khas Medan” mengundang minat seorang Bapak paruh baya.
“Suka makan durian ya dek?”, si bapak bertanya pelan.

Langsung saja semua pasang muka manis agak malu-malu karena baru sadar ada yang terganggu.

“lumayanlah pak, he he he,….emang kenapa pak?” seorang anggota geng menjawab.

“Saya senang lihat cara makannya, berebut dan sambil ketawa-ketawa”, sahut si bapak.

Langsung saja semua pasang muka agak memerah, ternyata dari tadi si bapak memperhatikan kerakusan anggota geng yang menarik perhatian si bapak tadi.
“Masih mau makan durian lagi?”Bapak tadi bertanya dengan logat Palembang. Sontak saja semua anggota geng menolak dengan jaim-nya. Apalagi si Alite, paling tahu untuk pura-pura jaga imej (meski kadang berlwanan dengan kata hatinya,..ha,..ha,..ha)
Sepertinya si Bapak tidak mau berhenti, dia menawarkan kami makan durian gratis, bukan hanya gratis tapi sepuasnya.

“Minta saja sama si ayuk (panggilan mbak dalam bahasa Palembang) yang jualan durian, nanti berapa pun yang kalian makan,biar ntar si Ayuk yang tagihkan ke saya. Makan saja sepuasnya,….rumah saya dekat koq, saya anggota Dewan yang rumahnya disana, saya senang kalian sangat ceria” Si Bapak menjelaskan sambil menunjuk arah rumahnya yang ternyata merupakan “Puri Cikeas-nya” di daerah Inderalaya.

Wuih,..sontak semua pasang mimik manis sambil malu-malu bilang trima kasih sama si Bapak tadi, terus tersenyum manis sampai si Bapak tadi pergi meninggalkan trotoar tempat durian party berlansung.
Well,…..ini namanya rejeki nomplok, antara percaya dengan tidak percaya, kami konfirmasi ke si mbak penjual durian, ternyata benar, boleh makan sepuasnya selama lambung masih bisa diisi.

Langsung saja tanpa ada jaimnya semua berebut makan durian pilihan masing-masing,…..ini namanya bukan durian runtuh, ini namanya durian gratis. Puas makan sekenyangnya, rasanya terlalu bodoh kalau “gratisan “ini hanya dinikamti sendiri, dengan penuh inisiatif maki mengajak teman-teman kuliah yang kebetulan lewat untuk makan durian. Awalnya banyak yang menolak, mungkin karena berpikir akan bayar, ada juga yang gak percaya bisa makan gratis, ya sudah, yang gak percaya rugi sendiri. Yang percaya juga banyak, semuanya makan sepuasnya,……bangganya bisa jadi “Pahlawan bahan pangan”.

Ternyata geng jomblo tak selalu menyedihkan saat malam minggu, buktinya malam minggu itu menjadi hangat karena perutpun mulai hangat dan penuh gas akibat makan kebanyakan, resikonya pagi-pagi terjadi perang gas,……. Selalu ada resiko dari sebuah kenikmatan,….aroma gas durian di kamar kost dengan dentuman “meriam” membuat pagi hari di kamar kost harus tercemar,….meski begitu tokh kami tetap tertawa lepas layaknya anak muda yang menikmati hidup.


Kamis, 21 Februari 2013

SERIAL CESKUL : WELCOME TO “THE JUNGLE’ INDRALAYA


WELCOME TO “THE JUNGLE’ INDRALAYA

17 Agustus 1999

            Bus Pelangi melaju perlahan. Ini saat yang haru, saatnya meninggalkan kota Medan menuju kota Palembang. Setelah peluk cium denga mama, kakak dan abang, akhirnya saya harus berangkat. Usia 18 tahun, saatnya melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas. 1 kursi di fakultas Teknik kimia UNSRI telah tersedia, begitu juga 1 buah kursi telah tersedia di D-III Pariwisata USU, pilihan hati akhirnya jatuh ke kota Pem-pek Palembang. Banyak impian yang sudah terlukis akan indahnya kuliah, mandiri, dan punya banyak teman.

            Semangat jiwa muda pasti bisa ngalahin yang namanya ketakutan. Kecuali ketakutan akan mabuk darat. Naik Bus, perjalanan lebih dari 30 Jam??? Well, sempurna, gak bisa dibayangkan berapa kali akan mengalami namanya mabuk darat, perut mules, kepala pusing (agak malu juga, tapi mabuk darat sepertinya sudah sulit lepas dari jawdal perjalanan naik bus umum). Apalagi sudah membayangkan, akan banyak minyak sinyong-yong berbagai merek yang akan dipakai para penumpang. Jangankan Medan-palembang, jarak Medan – Parapat saja sudah bisa dipastikan akan mabuk (khusus kalau naik bus).Tapi gak apa, si Bapak ikut nemanin ngantar ke Palembang sapai dengan pendaftaran mahasiswa baru selesai..

            Perjalanan 30 jam tak seindah yang dikira, apalagi melewati jalur lintas timur. Kebanyakan melewati hutan, kawasan sawit dll. Minus pemandangan indah. Perjalanan 30 jam setidaknya sudah menyadarkanku, kalau 30 jam harus dikali 2, jadi 60 jam. Artinya setiap kali berangkat ke Palembang, artinya akan ada kesempatan pulang kampung ke Medan. Berarti waktu tempuhnya harus dikali 2.

            Urusan pulang kampung urusan belakanganlah……yang penting selamat sampai di Palembang. Rekor banget, karena jarak segitu jauh cuma sekali mabok. Tepuk tangan.

            Akhirnya bus merapat juga di Palembang, untuk sementara waktu saya menumpang di rumah Oppung yang masih Oom (tulang – panggilan orang Batak) dari pihak mamaku. Keluarga yang ramah dan baik hati. Tinggal di komplek Perumahan pegawai pertamina yang lebih sering disebut Komperta –Plaju. Perumahan yang indah dan asri. Tinggal sementara di rumah Oppung sangat nyaman, walau berbagi kamar dengan 2 orang anak oppung yang masih SMU.

            Besoknya saatnya pendaftaran ulang. Bersama teman dan bapakku, ditemani seorang mahasiswa senior di UNSRI yang masih tetangga Oppung, kami menuju kampus UNSRI Indralaya. Pemikiran pertama yang salah sudah tersibak. Kampus tidak berada di kota, tapi 32 KM dari kota Palembang. Jadi lupakan hura-hura dunia gemerlap anak kuliah (karena itu cuma ada di sinetron), karena saya harus siap hidup di kawasan yang berjarak 1 jam dari kota Palembang.

            Gak cuma disitu, angkutan yang kami pakai dari Palembang ke Indralaya udah layak masuk museum (mudah2an sekarang gak  ada lagi). Angkot jurusan Kayu Agung ini termasuk unik, dinding dalamnya terbuat dari bahan papan kayu, tapi kalau luarnya, plat besi. Soal keamanan nomor sekian, toh jarang terdengar kecelakaan. Soal kenyamanan? Ya sudah, jangan banyak tanya, ongkosnya aja Cuma “tenga duo” alias seribu lima ratus. Bapakku yang saat itu ikut nemani untuk pendataran ulang jadi deg-degan juga. Bukannya sombong, tapi asli baru sekali itu lihat angkutan yang sebgian terbuat dari kayu,. Sorry dad,…there in no seat belt, just keep praying. Apalagi jarak kampus Unsri Indralaya lumayan jauh.

            Sampai di kampus ada keanehan lainnya. Mengikuti pendaftaran ulang memang gak senikmat waktu pengumuman lulus “UMPTN”. Kali ini seabrek administrasi harus di urus. Ambil formulir disini, bawa ke lantai dua, trus berfoto diujung sana, tempel materai disana, periksa buta warna naik lagi kelantai 2 ..bla,..bla,..bla. Cuaca panas pastilah, meski Kampus asri yang ditumbuhi pohon-pohonan, namun dengan “olahraga setengah ringan” sambil ngurus administrasi, sudah pastilah haus dan lapar. Saatnya mencari makanan, setidaknya untuk mengganjal. Pilihan jatuh ke si abang penjual gorengan, beberapa gorengan (jujur bentuknya agak aneh dan yang gak pernah ngeliat di Medan). Anehnya, ditawarin air cuka yang warnanya coklat.  Dengan halus kutolak tawarannya. Saatnya menikmati gorengan lokal. Hmfffffff,…ini gorengan atau ketan atau???? Kenyal, lengket, dan,…upppssss aroma ikan. Sontak puyeng tujuh keliling, apalagi saya paling anti aroma ikan. Duerrrrr,…hamper aja pingsan di lapangan rumput yang mendadak jadi tumpukan manusia dan para pedagang karena adanya pendaftaran ulang mahasiswa baru. Aneh,..benar-benar makanan yang aneh. Tak berapa lama, akhirnya saya tahu, kalau itu namanya Pem-pek. Tentu aja bukan pem-pek ”high quality”. Karena ada harga ada barang ada rupa. Siapa sangka si gorengan “aneh” tadi akhirnya menjadi salah satu makanan favorit saya. Sampai-sampai setelah saya akhirnya menetap di kota Medan, saya kadang harus pergi ke Carrefour, atau restoran yang menyajikan/ menjual pem-pek yang enak tenan.

Well itu masih asik. Dunia sebenarnya mulai terlihat jelas setelah masuk kuliah. Tinggal sekost di perumahan Serumpun. Aneh juga namanya “serumpun’. Mungkin tata bahasaku memang gak keren-keren banget, karena kata “serumpun” langsung membuat saraf di otakku memikirkan Malaysia,….negara serumpun.

Jarak ke kampus gak jauh-jauh amat, sekitar 10 – 15 menit, ongkosnya juga super duper murah hanya Rp. 200,-. Setidaknya angkot nya bukan seperti “angkot Museum” jurusan kayu Agung. g keren, banyak yang full music juga.

Nah,..ini bukan masalah angkot,…ini masalah lokasi kampus, the real “jungle” lokasi menimba kampus. Fakta-faktanya adalah:

  1. Indralaya itu lokasi pengembangan kabupaten Ogan Ilir. Pusat “Kota” paling deket namanya Timbangan, hanya ada 1 mini market dan 1 pom bensin, da nada deretan penjual kerupuk dan buah, karena daerah lintasan sekaligus menjadi persimpangan jalur menuju Jakarta dan Bengkulu.. Jadi kalau Timbangan itu “New York-nya”, maka Serumpun adalah “Arkansas-nya”. Lupakan belanja kebutuhan bulanan di semacam Carrefour, hipermart or yang lainnya. Si Mini Market inilah yang menjadi penyelamat bahan baku anak kost, kalau mau keren-kerenan wajib ke Kota Palembang yang tentu saja punya pusat perbelanjaan yang keren.
  2. Jangan kira bisa akses internet seenaknya seperti sekarang. Cuma ada 2 rental computer, dan 1 rental internet. Bersiap-siaplah mengantri.
  3. Life is limited. Jangan kira transportasi selalu 24/7 seperti iklan salah satu restoran siap saji, katrena batas angkot dari Timbangan ke Serumpun (yang berjarak hanya 10 menit) hanya tersedia sampai jam 7 malam. Lewat dari itu, silahkan jalan kaki,…tentunya dengan keberanian melintasi kawasan ‘setengah hutan” plus berharaplah gak ada uka-uka yang membuntuti.
  4. Bersiap-siaplah menikmati danau Persada yang bundar dan menjadi “danau Tobanya” di Indralaya, jangan heran kalau akan dikejar babi hutan. Bahkan pernah juga ada babi jual tampang di daerah Fakultas Ilmu Keguruan (FKIP).Percaya atau tidak dari ratusan hektas kawasan Unsri, sebagian besar masih alami, bahkan pernah ada burung hantu yang ditangkap mahasiswa di dekat Fakultas Teknik.
  5. Gak ada namanya istilah ”Gaul”. Lagian mau gaul kemana juga, paling kalau mau gaul ya ke rumah makan setempat yang nyediakan televisi yang bisa gratis di tonton. Sudah bisa dipastikan kalau ada siaran pertandingan bola, semua tempat penuh sesak. Maklum aja, jarang mahasiswa yang punya televisi sendiri. Saya aja sekarang heran, kenapa orangtua pada tega gak ngasih fasilitas televisi ke anaknya,...termasuk ortu-ku juga. Beruntunglah seiring waktu, sepertinya mahasiswa pada makin tajir, sudah punya televisi atau komputer pribadi.
  6. Berhentilah bermimpi ala ”Titanic”, Palembang dan Indralaya minus lokasi wisata seperti Danau Toba, Pantai, atau pegunungan. Yang ada hanya Taman Hutan Raya ”Punti Kayu” yang terletak di pusat kota Palembang. Kalau sekarang sudah ada wisata bahari di pinggiran sungai Musi, tapi tahun 1999 belum trend. Sebenarnya ada beberapa lokasi wisata yang keren di Sumatera Selatan, seperti lokasi Kebun Teh, Pendakian Gunung, dll. Tapi agak jauh dari kota Palembang. Kalau mau menikmatinya pun, wajib pintar berhemat, namanya aja anak kost, semuanya serba terbatas dan disiplin.
  7. Minim Fasilitas Publik. Well,...ini pengalaman pribadi, entah apa alasannya dan penjelasannya, pernah beberapa kali kejadian, Air PAM tidak mengalir di beberapa titik lokasi. Padahal air PAM sudah menjadi kebutuhan hidup seribuan mahasiswa UNSRI yang berdomisili di Indralaya. Entah kenapa juga rumah kost kami sering menjadi korban. Masih Ingat waktu tinggal di Perumahan Serumpun, air tidak mengalir sama sekali. Akhirnya saya dan teman harus berjalan sekitar 700 meter menuju sebuah danau rawa untuk mencuci baju. Berangkatnya ringan, pulangnya berat minta ampun karena kain bersih masih basah, belum lagi harus melewati hamparan ilalang, keren juga sih dipikir-pikir, malah kadang lebih keren dari pejuang ”laskar pelangi”. Pernah lagi saya pindah ke kost teman di daerah yang ”kaya air” selam 1 bulan. Gak tahan dengan kehidupan ”keras” tanpa air, hidup nomaden pun di jalani.


Sebenarnya masih banyak, tapi kisah ini bukan untuk menjelekkan suatu daerah, tujuannya hanya untuk kembali melihat kisah perjuangan kuliah dulu. Toh pada akhirnya, Indralaya menjadi salah satu tempat yang paling memorable dalam hidup saya. Percaya atau tidak, 5 tahun takkan bisa dilalui, kalau saya tidak benar-benar jatuh cinta dengan ”jungle” yang satu ini. Saya sebut ”jungle” bukan dalam arti yang sesungguhnya, tapi tantangan-tantangan yang harus saya taklukkan dalam hidup. Karena meski minim fasilitas, tokh akhirnya saya berhasil meraih Sarjana Teknik. Puji Tuhan.


My Project “Serial Ceskul”


My Project “Serial Ceskul”

Sesuai dengan resolusi tahun ini, harus ada peningkatan dalam dunia tulis menulis, setelah hampir 2 bulan tahun 2013 dijalani, akhirnya ketemu juga proyek menulis yang bersifat continyu dan merupakan adaptasi atau pengembangan dari kisah nyata.

Proyek menulis ini saya sebut SERIAL CESKUL. Tulisan ini sendiri akan merupakan cerita bersambung. Kisah-kisah didalamnya sendiri akan bercerita tentang beragam cerita selam kuliah di Kota Palembang di Universitas Sriwijaya (UNSRI). CESKUL itu sendiri singkatan dari ‘CERITA SEMASA KULIAH”

Ide cerita ini proyek menulis ini sendiri muncul dengan “tidak terencana”. Idenya muncul ibarat kilatan cahaya yang muncul tiba-tiba. Timingnya aja waktu mandi setelah pulang kerja yang cukup melelahkan.

Rasanya sayang kalau kisah selama 5 tahun di Palembang dilewatkan begitu saja, apalagi banyak kisah baik suka dan duka sebagai anak kuliahan yang sepertinya hal umum, tapi ingin saya ramu menjadi lebih gurih. Beberapa cerita akan diangkat ke permukaan, misalnya saja kecewa waktu menyadari posisi lokasi Kanpus yang bukan berada di Pusat kota Palembang tapi justru 32 KM di luar kota Palembang alias Indralaya, ada juga cerita bahagianya ditraktir sepuasnya makan durian oleh anggota dewan, kisah asmara anak kuliahan, malas-malasnya anak kuliah dll, beragam cerita yang tentunya saya harap bisa menghibur setiap yang membaca.

Namanya aja proyek bagi pemula, hitung-hitung sekalian latihan menulis, siapa tahu ada penerbit yang kecantol, dan akhirnya bukuku muncul di GRAMEDIA, hi,…hi,..hi. Namanya aja mimpi,……gak perlu protes. Tokh, Agnes Monica pernah bilang “Dream, Believe and Make it happened”,…..Aku Bisa.






Rabu, 13 Februari 2013

HAPPY VALENTINE'S DAY


HAPPY VALENTINE

Baru saja Hari Raya Imlek berlalu. Nuansa Merah yang identik dengan Imlek sudah dibayang-bayangi dengan kehadiran si Pinky yang menebarkan nuansa merah jambu, It’s Valentine.

Ada aja yang berbahagia di hari Valentine yang ditenggarai sebagai Hari Kasih sayang. Meski tidak diakui sebagai hari peringatan nasional di setiap negara, toh kehadirannya sepertinya sudah ”diakui” secara global.

Walau tidak bisa dipastikan asal muasalnya, karena ada beberapa versi, tapi tetap aja banyak yang merayakannya. Misalnya aja, ada teman kantor yang teriak-teriak bahagia karena mendapat kiriman paket dari sang kekasih hati nun jauh disana (yang merasa senyum-senyum sendiri). Entah kapan dimulai, boneka, coklat dan permen serta bunga mawar sepertinya menjadi properti wajib Valentine’s day. Beberapa restoran terkemuka di Kota Medan juga gencar melakukan promosi celebrate valentine’s day dengan paket couple yang menurut saya cukup mahal. Kebayang makan berdua hampir 1 juta rupiah, meski ada DJ or dancer, menurut saya itu cukup mahal.

Well,....saya sendiri bukan ”penganut” Valentine’s Day. Ngerayainnya juga cuma sekali waktu kuliah di Palembang dulu, itupun dengan sesama jombloners kost. Gak ada nuansa Pinky or coklat, yang ada rame-rame bikin es cendol. Rasanya??? Gak usah ditanya, sepertinya semua makanan anak kost itu enak semua. Perayaannya pun karena ide beberapa jomblo wanita yang mimpi pangeran berkuda akan menghampiri mereka di hari kasih sayang itu. Nah lho???

Meski beberapa waktu terakhir ini muncul kontroversi di masyarakat tentang perayaan Valentine’s day. You Know-lah maksud saya, di Indonesia ini apa sih yang gak bakalan jadi kontroversi (pssstttt,......bahkan yang gak jelas asal usulnya aja bisa diperdebatkan). Saya pikir sih, sah-sah aja orang negrayainnya, selama feedbacknya bagus untuk si person. Meski saya sendiri juga tidak merayakannya.

Menilik dari namanya ”Kasih sayang” (bukan dari latar belakang asal-usulnya), saya pikir sudah sewajarnya setiap manusia di hari ini memikirkan tentang kasih yang ada dalam dirinya. Dalem banget,....wajar saja. Sifat Kasih dalam diri seseorang akan memncar dalam tindakan dan perilakunya. Ringkasnya begini, coba saja perhatikan seseorang, perbuatannya biasanya mencerminkan seberapa besar kasih yang dimilikinya. Kasih biasanya terbentuk dari dalam keluarga. Makanya seseorang yang selalu bahagia, kemungkinan besar keluarganya bahagia, biasanya juga pebuatannya akan mengarah ke postif.

Bukan sok pintar jadi psikolog. Tapi kasih yang didik sejak dini di keluarga akan membentuk karakter positif seseorang. Jangan heran kalau akhirnya saya menyimpulkan kalau di Negara Indonesia tercinta ini, penyebab Korupsi, Kejahatan dan kriminal lainnya berkembang karena MINIMNYA KASIH dalam diri seseorang. Logikanya, kalau seseorang tega korupsi bermilyar-milyar dan memperkaya diri sendiri, padahal banyak masyarakat yang miskin, bahkan harus berjuang untuk sesuap nasi,...apakah ada kasih di hati si Koruptor??? Jawab sendiri.

Kalau ada orang yang tega membunuh karena dendam, iri atau apalah namanya, apakah ada kasih di dalam hati seseorang???  Pikir sendiri jawabnya.

Mau lihat yang lebih nyata lagi??? Coba tonton berita hari ini di televisi swasta manapun, mana yang lebih banyak? Berita kriminalitas atau berita yang menyenangkan/ membanggakan.

Sepertinya memang negara kita (saya sebut negara kita, karena saya gak suka meneriaki negara orang lain, sementara negara saya sendiri amburadul) sudah kekurangan Kasih. Ibarat ilustrasi, seharusnya setiap orang diinfus dengan cairan yang disebut kasih, biar sehat, biar bisa berperilaku yang baik.

Merunut dari penjelsan tadi, saya pikir hari ini setiap kita perlu back to zero (kembali ke titik nol), seberap besar kasih yang kita miliki??? Mulailah berbagi kasih dengan yang terdekat dihati anda (BBM ttg kasih mungkin perlu, tapi agak aneh juga kalau seseorang diukur dia dicintai dengan jumlah BBM kembali dari 30 orang yang dibroadcast,...halahhhhh). ungkapkan kasih anda kepada keluarga, kekasih, anak, istri/suami,....atau buat anda “pengincar cinta” saatnya hari ini tepat untuk mengungkapkan CINTA,....siapa tahu diterima,...berbunga-bungalah hati.

Mau disebut Velentine’s day atau bukan atau hari kamis (menjelang akhir pekan”, saya gak terlalu permasalahkan. Tapi buatlah mari membuat setiap hari menjadi hari kasih sayang. Mau pake pink or gak??? Terserah saja, toh saya gak mungkin pake pink juga khan,....... bisa-bisa???? Ha,..ha,..ha.